Share this:

Sebelum Universitas Wiraraja (Unija) menerima penghargaan “Anugerah Kampus Unggul (AKU)” untuk yang kedua kalinya pada tahun 2012 dalam kategori “Kelmbagaan dan Tata Kelola, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, serta Kemahasiswaan” dari Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur pada 31 Maret 2012, kampus di ujung timur pulau Madura ini telah mengecap pahit getir dinamika perubahan.

Berdiri pada hari Jum’at 25 Juli 1986 melalui legalisasi Kantor Notaris Akhmad Kohar, SH yang beralamat di Jl. Embong Wungu No 47B Surabaya.

Sebagaimana termaktub dalam akte notaris tersebut, pendirian Universitas Wiraraja dipelopori oleh Soegondo (Bupati Sumenep 1985-1995), Drs. H. A. Said Hidayat, M.Si. (Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep),  Wasoel Djakfar, BBA (Kepala Sanggar Kegiatan Belajar), dan Syafrawi (Karyawan BNI Sumenep).

 

 

Momentum Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) untuk mendorong program pembangunan sejuta sekolah dasar, khususnya di daerah-daerah terpencil dan kepulauan, ditangkap oleh para penggagas sebagai saat yang tepat untuk mendirikan sebuah universitas.

Pada periode awal Unija hanya memiliki 5 fakultas, Yakni Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Keguruan.

Proses belajar mengajar bahkan dilakukan dengan sangat sederhana di gedung SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), yakni gedung pemerintah milik Pemkab Sumenep yang biasanya dipergunakan untuk menggelar pelatihan dan peningkatan kompetensi aparatur.

Bila direnungkan, situasi saat itu memang demikian kontras dengan kondisi saat ini, dimana kini sudah memiliki gedung yang representative dengan fasilitas yang sudah memadai.