Share this:

Menjadi mahasiswa pertukaran ke Jepang mewakili Universitas Wiraraja Sumenep adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya, karena salah satu impian yang saya nantikan akhirnya dapat terwujud. Mungkin jika dilihat, sekilas terlihat bahwa yang saya dapatkan sangatlah mudah. Namun untuk mendapatkan kesempatan ini tidaklah mudah, karena dibalik semua itu, ada proses yang saya lalui, ada perjuangan yang harus saya lewati. Lebih dari 4 tahun saya mempunyai impian untuk bisa belajar di Luar Negeri, lebih dari 5 tahun saya fokus belajar bahasa Inggris. Semua itu tidaklah berjalan mulus begitu saja. Banyak rintangan yang sudah saya lewati.

Berawal dari rasa iri kepada seorang penjual ice cream yang fasih berbahasa inggris yang saya jumpai saat liburan ke Bali, waktu itu saya masih kelas XI SMK dan kemampuan bahasa inggris yang saya miliki masih acak-acakan. Saat kembali ke sekolah ada promosi beberapa universitas-universitas eropa yang datang ke sekolah saya. Saya sangat tertarik untuk ikut bergabung ke kampus tersebut, tapi persyaratannya haruslah memiliki sertifikat bahasa dan biaya untuk ikut tesnya pun tidak murah, yang pada akhirnya saya harus mengurungkan niat saya untuk bisa apply di kampus-kampus tersebut, namun saya meyakini dalam hati bahwa “suatu saat saya pasti bisa mendapatkannya” sejak saat itulah saya mulai menanam impian untuk bisa belajar di luar negeri dan impian itu saya simpan baik-baik di dalam hati.

Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan saya hingga level perguruan tinggi yang jika dipikir secara logika itu sangat tidak mungkin dengan keadaan ekonomi keluarga. Ibu saya seorang penjual rujak dan bapak saya seorang penjaga malam. Namun saya bangga pada mereka, mereka selalu berusaha keras untuk pendidikan anak-anaknya. Ibu saya yakin dengan pendidikan yang tinggi kehidupan keluarga akan dapat berubah dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Karena itulah saya sangat menghargai pendidikan, hati saya sakit jika melihat teman yang tidak menghargai pendidikan dan hanya kuliah dengan main-main.

Dunia perkuliahanpun saya rasakan, Universitas Wiraraja Sumenep adalah kampus dimana saya akan mendapatkan gelar Sarjana Teknik (ST) nantinya. Saat semester III saya ikut serta dalam kolaborasi reseach antara ITS dan Universitas Wiraraja yang juga melibatkan beberapa universitas-universitas di luar negeri. Dalam kolaborasi reseach ini hampir semua yang dibicarakan disampaikan dalam bahasa inggris. Sejak saat itulah saya memutuskan untuk mengambil program kursus di lembaga bahasa untuk lebih menata struktur bahasa saya menjadi lebih baik.

Kursus Bahasa Inggris di lembaga bahasa saya ikuti, memang keputusan ini melalui pemikiran yang sangat matang mengingat biaya kursus yang tidak murah. Saya tidak mau membebani orang tua dengan keputusan saya ini. Saya berusaha membiayai kursus saya agar saya bisa belajar bahasa Inggris dengan cara berjualan sate. Hasil dari berjualan saya pakai untuk membayar biaya kursus, jika ada lebihnya saya pakai untuk keperluan lainnya, jika hasilnya  masih belum mencukupi terpaksa harus meminjam uang dari teman.

Saya telah mendengar kabar bahwa akan ada pertukaran keluar negeri saat saya semester V dan pada semester VII tanpa disangka-sangka, saya mendapat surat pemberitahuan dari Dekan Fakultas Teknik, bapak Dwi Deshariyanto bahwa beliau merekomendasikan saya untuk mengikuti seleksi program pertukaran ke Jepang dalam program JENESYS 2016 (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) yang akan diselenggarakan oleh Universitas Wiraraja Sumenep sebagai PSA (Pusat Studi ASEAN). Dan saya pun mengikuti seleksinya dengan berbekal ilmu yang saya miliki.

Dan akhirnya tepat pada saat saya menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Manarul Ulum Universitas Wiraraja yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Teknik pada tanggal 16 Desember 2016, saya dipanggil oleh sekretaris rektor dan diberitahukan bahwa saya adalah mahasiswa yang lolos seleksi program pertukaran ke Jepang mewakili Univeristas Wiraraja, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura-Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *